Tampilkan postingan dengan label piano. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label piano. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Desember 2011

Naruto Piano Tutorial

Sebenarnya saya sendiri sudah banyak punya video piano tutorial naruto, tapi akan lebih baik jika teman-teman langsung download sendiri lewat link yang saya berikan di bawah ini. Lagipula jika saya upload di sini, akan memperlambat loading di blog ini.
^_^
Ini dia beberapa link yang saya maksudkan...
Maaf ya. . . .kalau mengecewakan.  Kalau masih kurang puas, langsung terbang aja ke You Tube.
Hehehe....

Sabtu, 03 September 2011

Bisa Piano Berarti Bisa Semua Alat Musik?

Pesan ini sering disampaikan orang tua kepada anaknya sebelum mulai belajar piano. “Belajarlah piano nak, karena kalau kamu sudah bisa piano kamu bisa semuanya,”. Menurut pengalaman seorang guru les piano selama mengajar piano dan keyboard, ternyata hal ini lebih kepada mitos saja. Beberapa murid piano klasik beralih ke keyboard atau piano pop karena jenuh dan merasa kurang berkembang. Kebanyakan muridnya yang tidak “murni” itu ternyata juga mengalami hambatan ketika belajar keyboard. Memang rata-rata mereka hanya membutuhkan dua atau tiga bulan saja untuk menguasai grade 1. Murid-murid “murni” guru tersebut, yang mulai dari nol,  menghabiskan 6 bulan sampai bahkan 1 tahun. Tapi bila kita lihat dalam long run atau jangka panjang, murid-murid yang berhasil sampai ke grade 3 atau 4 ternyata membutuhkan sekitar 3,5 hingga 4 tahun baik bagi murid “murni” maupun tidak “murni”. Perbedaannya hanya beberapa bulan saja. Hal ini berbeda sekali bagi murid-murid yang sebelumnya telah berada pada grade 5 atau 6 piano klasik, atau sudah mengajar. Mereka hanya membutuhkan 1,5 hingga 2 tahun untuk mencapai grade 5 keyboard. Kalau kita sudah pada tahap seperti ini, tentunya diharapkan kita sudah memiliki kemampuan sight reading yang baik (mungkin primavista?) dan teknik yang sangat baik. Kalau kita sudah seperti ini ya iyalah! Belajar apa saja pasti lebih mudah.


Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang yang sudah nyebur di piano klasik sekian lama harus mulai dari nol lagi ketika belajar piano kontemporer atau keyboard.


  1. Perbedaan alat menyebabkan perbedaan kebiasaan bermain. Hanya dibutuhkan tangan kanan dan kiri ketika bermain piano, mungkin ditambah satu kaki untuk pedal. Tapi untuk bermain organ atau electone kedua kaki dan tangan harus main semua. Ketika bermain keyboard, tangan kanan dan kiri juga harus aktif menekan dan mengatur setting yang ada pada panel. Nggak gampang kan? 
  2. Biasanya murid klasik sering mati kutu kalau harus mengikuti rhytm yang berbeda-beda dari jenis musik. Ada yang harus main swing, straight, syncop yang rapat, dan lain lain. Sedangkan materi lagu pada pelajaran organ, keyboard atau piano pop berisi lagu-lagu kontemporer dengan mood rhytm yang berbeda-beda. 
  3. Belum lagi kalau berhadapan dengan improvisasi atau creative styling. Wah itu susah deh, kebanyakan murid piano klasik tinggal membaca saja dari buku.

So, kalau kita atau anak kita suatu saat ingin menguasi sebuah alat musik jangan muter-muter. Langsung saja pelajari alat tersebut dari awal, supaya tidak terbuang waktu percuma.

Jumat, 02 September 2011

Otodidak VS Kursus

"Bisa"nya seperti apa?
Seringkali saya mendapat pertanyan: "Saya atau anak saya sudah sekian tahun les piano atau keyboard tapi kok gak bisa-bisa sih!". Pertanyaan ini harus diperjelas, "bisa" yang diharapkan itu seperti apa? Setelah di probe ternyata ada beberapa jawaban.

  1. Bisa main lagu apa saja tanpa lihat buku.
  2. Bisa ngiringin nyanyi lagu apa saja.
  3. Bisa main band seperti band-band di tivi.
  4. Bisa improvisasi seperti Kang Purwacaraka atau Indra Lesmana.
  5. And the list goes on and on.

Orang lain nggak kursus kok bisa?
Kebanyakan musisi senior kita nggak ngerasain sekolah musik. Mereka adalah special people with special talent, yang udah nyemplung di dunia enetertainment di usia muda. Memang jaman dulu belum ada sekolah musik, karena yang ngerti musik-pun sedikit. Rata-rata mereka memiliki feel atau musical soul, hearing dan grooving yang kuat. Wah apa tuh tadi? Feel adalah bagaimana bermain dalam jenis musik yang berbeda-beda. Hearing adalah kemampuan mengenali nada, chord dan ketukan dengan hanya mendengar. Grooving adalah kemampuan mengikuti ketukan yang berbeda-beda dalam setiap jenis musik. Apabila seseorang memiliki ketiga unsur tersebut ditambah memori yang kuat, dia boleh dibilang berbakat dalam musik.  Tapi ternyata mereka yang otodidak memiliki beberapa kelemahan.

  1. Belum tentu mereka memiliki fingering atau penjarian yang rapi, enak dilihat.
  2. Kurang lancar baca not, apalagi menguasai teori musik.
  3. Kurang menguasai metode mengajar yang baik karena metode belajar mereka belum tentu bisa diikuti semua orang.

Kebanyakan musisi otodidak adalah pemain yang baik, tapi mereka kesulitan mentransfer ilmu mereka ke orang lain. Murid yang setengah "jadi" atau setengah "bisa"yang akan berkembang. Tapi murid yang mulai belajar dari nol, have no special talent, ya nggak janji deh! Tapi gimana kalo kita gak punya waktu pergi kursus? Sekarang sudah ada buku tutorial piano dan keyboard yang cukup bagus dari dalam atau luar negeri, dilengkapi CD pula jadi bisa belajar sendiri.

Les musik, nggak sia-sia tuh?
Ya nggak lah! Tapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

  1. Cari referensi tentang sekolah musik yang ingin dimasuki dari orang lain yang sedang dan pernah belajar atau lebih bagus lagi dari pengajar musik.
  2. Kenali guru kita, minta juga referensi dari orang lain tentang bagaimana permainannya, lulusan mana, gimana ngajarnya, dll.
  3. Ceritakan kepada guru atau instruktur apa saja harapan kita dari belajar musik. Tanyakan juga metode belajarnya, punya lesson plan gak. Kalau ternyata dia gak bisa membantu apa yang kita harapkan atau malah jadi tersinggung, tinggalin aja!!
  4. Jangan sampai salah jurusan, kalau kita ingin main lagu-lagunya Kahitna ya jangan masuk piano klasik!
 Sekarang ini udah mulai banyak kok kursus dan sekolah musik dengan metode yang baik. Banyak juga lho pengajar piano lulusan overseas. Tapi jangan masuk ke kursus yang nggak punya metode dan kurikulum. Bisa dilihat kok dari materi per tingkat dan buku-bukunya. Kalau sudah dapat guru dengan metode dan kurikulum yang bagus, jangan malas latihan. Buat komitmen untuk latihan sekian menit setiap hari. Kalau gak ada kemajuan, jangan salahkan orang lain. Kalau bisa dengarkan sebanyak mungkin musik dari CD atau kaset untuk memperluas wawasan bermain. 
sumber

Sabtu, 27 Agustus 2011

Alasan Pembenaran Kenapa Lebih Menguntungkan Belajar Piano Dibandingkan dengan Belajar Keyboard

Apa betul?
Memang kalau dilihat sepintas antara piano dengan electone atau keyboard tidak jauh berbeda. Keduanya mengandalkan tuts atau keyboard atau papan kunci nada yang sama. Hanya saja ada beberapa perbedaan mendasar yang bisa menentukan kemahiran atau skill pemainnya.
  1. Pertama, piano tidak akan berbunyi jika tidak dipukul dengan jari yang bertenaga. Itu sebabnya piano digolongkan sebagai alat musik pukul (perkusi). Bandingkan dengan keyboard yang dipencet sedikit saya sudah berbunyi. Artinya jemari tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk membunyikannya. Keuntungannya adalah bahwa dengan belajar piano, akan membentuk otot-otot jari yang lebih kuat dan terlatih. Dengan kata lain, pemain piano akan lebih mudah membunyikan tuts piano ataupun keyboard dibandingkan pemain keyboard yang akan merasa bahwa tuts piano terlalu berat dimainkan dan membuat jemarinya pegal. Saat ini juga sudah banyak keyboard yang tutsnya berat dan mengadopsi tuts piano. Istilahnya keyboard dengan "hammer key". Analoginya seperti orang yang belajar mengetik sepuluh jari dengan mesin ketik biasa dan setelah mahir lemudian menggunakan keyboard komputer. Bukan sebaliknya.
  2. Kedua, pemain piano akan memiliki kemampuan scaling jemari tangan kiri sama baiknya dengan yang kanan. Karena tangan kiri pemain piano tidak hanya memainkan block chord (not yang membentuk akord dimainkan ditekan secara bersamaan), tapi juga arpeggio chord (not-not dalam akord dimainkan bergantian). Bukan hanya itu, tangan kiri pemain piano juga diharuskan bisa memainkan scale atau titi nada sama baiknya dengan tangan kanannya. Bandingkan dengan pemain keyboard yang jemari tangan kirinya hanya bisa memainkan block chord dan hanya mengandalkan tangan kanan untuk memainkan melodi. Sehingga untuk memainkan keyboard, seorang pemain piano akan lebih mudah melakukannya dibanding pemain keyboard yang disuruh main piano.
Saya kira, kedua alasan ini bisa dijadikan alasan pembenaran kenapa lebih menguntungkan belajar piano dibandingkan dengan belajar keyboard.

Kamis, 25 Agustus 2011

Latihan Penjarian Piano/Keyboard

Ini hanya penjarian dasar untuk bermain piano dan keyboard. Sebenarnya ada banyak bentuk latihan penjarian untuk bermain keyboard atau piano. Ini saya bagikan beberapa contoh latihan penjarian untuk Anda.
Mungkin seluruh pembaca artikel ini belum mengetahui baca tulis partitur not balok atau angka. Jadi saya sampaikan dengan not mutlak(huruf).

Keterangan :
TANGAN KIRI DAN TANGAN KANAN :
JARI JEMPOL = 1
JARI TELUNJUK = 2
JARI TENGAH = 3
JARI MANIS = 4
JARI KELINGKING = 5

Latihan 1
Nada Do – Re – Mi – Fa – Sol atau tuts C – D – E – F – G

Penjarian tangan kanan:
Do / C = 1
Re / D = 2
Mi / E = 3
Fa / F = 4
Sol / G = 5
Penjarian tangan kiri:
Do / C = 5
Re / D = 4
Mi / E = 3
Fa / F = 2
Sol / G = 1

Petunjuk:
- Ketika menekan tuts, hanya satu jari yang menekan tuts, sedang jari lain diangkat dan tidak menyentuh tuts.
- Awali latihan dengan satu tangan (kanan atau kiri) secara bergantian terlebih dahulu.
- Mainkan not tersebut naik turun/bolak balik, dari do ke sol dan sol ke do.
- Lalu kombinasikan kedua tangan secara serentak memainkan not yang sama dengan jarak satu oktaf.
- Lakukan mulai dari tempo lambat dan perlahan cobalah untuk mempercepat tempo.

Latihan 2
Nada Do – Re – Mi – Fa – Sol – La – Si – Do atau tuts C – D – E – F – G – A – B – C (1 Oktaf)
 
Penjarian tangan kanan:
Do / C = 1
Re / D = 2
Mi / E = 3
Fa / F = 1
Sol / G = 2
La / A = 3
Si / B = 4
Do / C = 5

Penjarian tangan kiri
Do / C = 5
Re / D = 4
Mi / E = 3
Fa / F = 2
Sol / G = 1
La / A = 3
Si / B = 2
Do / C = 1

Petunjuk:
- Ketika menekan tuts, hanya satu jari yang menekan tuts, sedang jari lain diangkat dan tidak menyentuh tuts.
- Awali latihan dengan satu tangan (kanan atau kiri) secara bergantian terlebih dahulu.
- Mainkan not tersebut naik turun/bolak balik, dari do ke sol dan sol ke do.
- Lalu kombinasikan kedua tangan secara serentak memainkan not yang sama dengan jarak satu oktaf.
- Lakukan mulai dari tempo lambat dan perlahan cobalah untuk mempercepat tempo.
- Jika sudah mulai menguasai, lakukan latihan ini dengan dua tangan secara serentak, dengan arah berlawanan. Tangan kiri dimulai dari Do rendah ke Do tinggi sedangkan tangan kanan dari Do tinggi ke Do rendah.

Latihan 3
12 tuts C – C#/Db – D – D#/Eb – E – F – F#/Gb – G – G#/Ab – A – A#/Bb – B – C (Semua tuts dalam 1 oktaf)

Penjarian tangan kanan:
Tangga nada dari C rendah ke C tinggi :
C = 1
C#/Db = 2
D = 1
D#/Eb = 2
E = 1
F = 2
F#/Gb = 3
G = 1
G#/Ab = 2
A = 1
A#/Bb = 2
B = 3
C = 4

Petunjuk:
- Ketika menekan tuts, hanya satu jari yang menekan tuts, sedang jari lain diangkat dan tidak menyentuh tuts.
- Awali latihan dengan satu tangan (kanan atau kiri) secara bergantian terlebih dahulu.
- Mainkan not tersebut naik turun/bolak balik, dari do ke sol dan sol ke do.
- Lakukan mulai dari tempo lambat dan perlahan cobalah untuk mempercepat tempo.
 
Cuma ini dulu sharing saya mengenai latihan penjarian dan semoga bermanfaat bagi Anda semua.
TERIMA KASIH

Senin, 22 Agustus 2011

Jenis-jenis Piano

Grand Piano
Inilah piano yang sebenar-benarnya. Berasal dari konstruksi kayu mengkilap, dengan tuts berjumlah 88. Piano ini memiliki kotak akustik yang ditidurkan, dengan deretan senar-senar yang diketuk hammer piano ditidurkan. Merk yang paling eksklusif dari jenis ini adalah Steinway, sedangkan yang biasa kita temui di Indonesia adalah Yamaha Grand Piano. Harganya sama dengan satu unit mobil mewah, 400 jutaan ke atas.
UkuranGrand Piano memiliki mekanik seperti pengungkit dan setelah hammer memukul senar maka hammer tersebut akan jatuh kembali karena gravitasi. Grand piano berdasarkan ukuran terbagi menjadi enam kelompok.
  • Concert Grand, adalah grand piano dengan ukuran terbesar berukuran sekitar 274 cm. Piano ini yang sering digunakan dalam konser-konser piano.
  • Semiconcert atau ballroom piano, adalah grand piano yang berukuran 218,5-243,8 cm.
  • Parlor Grand atau kadang disebut juga living room grand berukuran 175,2-185,5 cm.
  • Medium grand berukuran sekitar 170 cm.
  • Baby grand adalah grand piano yang favorit berukuran 148,8-167,6 cm.
  • Petite Grand, adalah yang terkecil dengan ukuran 134,6-147,3 cm. Pada umumnya, piano terdiri atas 7 1/4 oktaf namun untuk piano merek Bösendorfer ada yang terdiri atas 8 oktaf.

Upright Piano
Masih di jajaran kategori piano akustik, upright piano juga berkonstruksi kayu, 88 tuts, kotak akustik serta senar-senarnya. Tetapi yang membedakan dengan grand piano adalah posisi kotak akustiknya yang berdiri. Dengan konstruksi seperti ini, piano model ini menghemat tempat. Jadi jika Anda tidak terlalu punya tempat untuk meletakkan Grand Piano dan masih ingin menikmati suara dentingan piano akustik asli, upright piano bisa Anda pilih. Ukuran
Berbeda dengan grand piano, kembalinya hammer setelah memukul senar akibat tarikan dari pegas. Vertikal piano terbagi atas 4 kelompok, yaitu :
  • Upright piano merupakan piano vertikal dengan ukuran terbesar yakni 127-152 cm.
  • Studio adalah piano yang sering terdapat pada studio musik atau sekolah musik berukuran 114-122 cm.
  • Console adalah piano yang memiliki banyak ragam model dan bentuk sehingga dapat berfungsi sebagai 'perabotan' berukuran 101,5-109 cm.
  • Spinet adalah piano berukuran paling kecil di mana mekanik (action) berada di bawah keyboard dan berukuran 91,5-96,5 cm. Dikarenakan letak action yang berada di bawah keyboard maka sistim mekaniknya berbeda dengan vertical piano lainnya, yaitu dengan menarik hammer agar hammer dapat memukul senar.
Digital Piano

Piano akustik, untuk mendapatkan kualitas yang prima memerlukan perawatan yang sangat merepotkan. Selain suhu tertentu diperlukan untuk menjaga ketegangan senar-senar nada piano, setiap kali piano model ini dipindahkan, nada-nadanya harus di tune ulang. Kawan saya yang memiliki sebuah piano upright, setiap kali pianonya nadanya mulai ngaco, ia harus mendatangkan tukang stem piano khusus dari Semarang.
Adalah sebuah terobosan Kawai dan Yamaha yang memperkenalkan synthetizer pada tahun 80-an. Sebuah sampling suara piano memungkinkan bunyi piano dihasilkan dari alat-alat elektronik yang dialiri listrik. Teknologi synthetizer berkembang sehingga digital piano sendiri memiliki kategorisasi tersendiri: digital piano, keyboard, dan synthetizer.
Digital piano ditandai dengan rentang nadanya yang sama dengan piano akustik biasa, yaitu sepanjang 88 nada. Model tuts-nya masih menggunakan tipe gradded-hammer, atau efek yang Anda rasakan ketika menekan tuts piano. Berat, dan seperti mengetukkan palu ke senar-senar nada. Model yang paling populer di panggung contohnya adalah Roland RD-700 atau RD-300,  sedangkan untuk pengguna rumahan, Yamaha seri Clavinova adalah contoh yang paling populer.

Keyboard
Apa beda keyboard dengan digital piano? Hal pertama yang paling mencolok adalah model tuts-nya. Keyboard tidak menggunakan gradded hammer, melainkan model touch response. Ini artinya efek seperti mengetukkan palu tidak bisa Anda rasakan, karena itu tuts keyboard jauh lebih ringan untuk ditekan, dan rasanya seperti menekan plastik tanpa sensasi menekan tuts piano akustik. Rentang nada yang dimiliki juga lebih sedikit, hanya sepanjang 61 nada. Memotong nada atas dan nada bawah piano, dan menyisakan nada tengahnya saja.
Tetapi kelebihan keyboard adalah kemampuannya menghasilkan suara bermacam-macam alat musik. Ia juga memiliki kemampuan untuk memainkan irama dengan variasi yang banyak, sehingga kita bisa bermain diiringi sebuah band lengkap dengan bantuan hanya satu unit keyboard saja.

Keyboard model begini paling sering muncul di hajatan seperti pesta pernikahan. Orang awam sering menyebutnya musik electone. Dengan memainkan suatu style (iringan nada-nada berbagai alat musik dalam satu band yang disimpan dalam format MIDI) pada keyboard, pemain keyboard cukup memainkan melodinya saja dengan bunyi-bunyi tertentu, sambil menekan chord-chord yang bersesuaian. Jauh lebih murah dan praktis daripada harus mendatangkan satu band lengkap.
Contoh yang populer adalah Yamaha seri PSR, atau Roland seri E.

Piano Elektrik

  • Piano elektrik terdiri atas berbagai macam ukuran mulai dari yang sangat sederhana (sehingaa mirip keyboard berukuran besar) hingga yang menyerupai petite grand imut. Ada yang yang menggunakan perangkat elektronik untuk menghasilkan bunyi, ada pula yang menggunakanmekanik seperti grand piano dengan senar yang sangat pendek dan suaranya di-amplifying dengan speaker atau sound system.
  • Roll up piano, adalah jenis piano elektrik yang sangat mudah dibawa karena dapat digulung. Bunyinya dihasilkan dengan speaker. Panjangnya pun cuma maksimal 6 oktaf dan dapat dihubungkan ke komputer lewat USB.


Synthesizer
Seperti namanya, alat ini adalah pembuat suara buatan yang handal. Hal yang paling kelihatan mencolok adalah rentang nadanya yang mungkin hanya dua oktaf saja, memiliki banyak panel-panel instrumen seperti equalizer, mixer, bender, dll pada papan keyboardnya. Alat ini memang ditujukan untuk membuat style, dan mengaransemen sebuah lagu. Sebuah aransemen dibuat dengan alat ini satu demi satu — atau istilahnya layer demi layer. Pola-pola instrumen drum, gitar, bass, dan variasinya ketika masuk chorus, bridge, atau coda dibuat satu per satu. Ketika sudah jadi, semua layer digabungkan menjadi satu menjadi sebuah aransemen musik yang bisa dimainkan oleh keyboard.


(click here for sumber 1 and 2)

Sabtu, 20 Agustus 2011

Teknik Dasar Bermain Piano/Keyboard

FINGERING
Hand and finger forms, relaxation of arms & shoulders.
Latihan untuk fingering ini, ditujukan agar kita sebagai musisi, khususnya pemain piano atau keyboard, posisi jari dan tangan kita saat bermain ada dalam posisi yang benar. Juga untuk bentuk jari-jari kita saat bermain di atas tuts piano atau keyboard ada dalam posisi sempurna. Latihan jari ini mencakup Tangga Nada dan Cadence.

TOUCHING
Touch of the notes, legato-staccato, phrasing, dynamics and expression.
Latihan untuk touching ini ditujukan agar kita sebagai musisi, khususnya pemain piano atau keyboard, mengerti interpretasi kita dalam bermain music. Tidak sedekar bermain musik, tapi musik itu yang harus keluar dari hati kita. Kita mengetahui di mana kita harus bisa main keras atau lembut. Bermain dengan ada tekanan atau nyambung atau putus-putus dan atau dengan aksen yang tepat. Ada dinamika, feeling dan ekspresi.

RHYTHM dan TEMPO
Latihan untuk rhythm and tempo ini ditujukan agar kita sebagai musisi dapat mencakup untuk semua instrument. Baik sebagai pemain drums, bass, guitar, percussions atau juga piano dan keyboard. Kita perlu mengetahui notes, ketukan & rhythm pattern. Kita perlu pahami juga tentang tempo yang benar.
Rhytmic dalam bermain musik (comping). Ada soul atau groove dalam bermusic. Harus ada “nyawa” dalam kita bermain dalam 1 band. Kita harus tau juga tentang TIME SIGNATURE (lagu itu dimainkan dalam ketukan 2/4, 3/4, 4/4, 3/8, 6/8, dll).

HARMONY
Chords progression, voicing and accompaniment.
Latihan untuk harmony ini ditujukan agar kita bisa lebih kaya dalam mengembangkan pola chords yang kita pakai dalam sebuah lagu. Mengembangkan juga bunyi yang dihasilkan dari chords yang kita mainkan.
Dan juga untuk memperluas cara kita bermain dalam konteks kita mengiringi seorang penyanyi atau jemaat. Karena dengan kita bermain dalam harmonisasi yang bagus, maka akan tercipta suatu kesatuan yang baik. Dengan mempunyai pengetahuan harmoni yang baik, kita dapat membuat aransemen yang pasti bisa lebih enak. Mengetahui posisi kita sebagai musisi, lebih sebagai pengiring!

READING
Latihan ini lebih ditujukan untuk mereka yang belum bisa membaca not balok atau combo partiture. Diharapkan mereka di kemudian harinya bisa untuk membaca partitur not balok atau combo part. Mereka mengenal Treble Clef (kunci G) dan Bass Clef (kunci F). Mereka mengetahui tentang KEY SIGNATURE (ada berapa sharp (#) atau flat (b) lagu itu dimainkan). Dengan kita melihat tanda-tanda tersebut dengan sendirinya kita sudah tau kalau lagu itu dimainkan di tangga nada apa. Jelas itu akan sangat mempermudah kita dalam bermusik.

Sejarah Piano

Pada saat awal-awal diciptakannya sebuah piano, suaranya tidak sekeras piano di abad 20-an, seperti piano yang dibuat oleh Bartolomeo Cristofori (1655 – 1731) buatan 1720. Pasalnya, tegangan senar piano kala itu tidak sekuat sekarang. Kini piano itu dipajang di metropolitan museum of Art di New York.

Meskipun siapa penemu pertama piano, yang awalnya dijuluki gravecembalo col piano e forte (harpsichord dengan papan tuts lembut dan bersuara keras), masih menjadi perdebatan, banyak orang mengakui, Bartolomeo Cristofori sebagai penciptanya. Piano juga bukan alat musik pertama yang menggunakan papan tuts dan bekerja dengan dipukul. Alat musik berprinsip kerja mirip piano telah ada sejak 1440.

Piano sendiri lahir dari keinginan untuk menggabungkan keindahan nada Clavichord dengan kekuatan Harpsichord. Hasrat itu mendorong Marius dari Paris (1716), Schroter dari Saxony (1717), dan Christofori (1720) dari Padua, Italia, untuk membuat piano. Namun, hasil utuh dan lengkap cuma ditunjukkan Bartolomeo Christofori. Dari piano ciptaan pemelihara Harpsichord dan Spinet (harpsichord kecil) di Istana Florentine, kediaman pangeran Ferdinand De’Medici, inilah piano modern berakar.

Pada pertengahan abad ke-17, piano dibuat dengan beberapa bentuk. Awalnya, ada yang dibuat mirip desain Harpsichord, dengan dawai menjulang. Piano menjadi lebih rendah setelah John Isaac Hawkins memodifikasi letaknya menjadi sejajar lantai. Lalu, dengan munculnya tuntutan instrumen musik lebih ringan, tidak mahal, dan dengan sentuhan lebih ringan, para pembuat piano Jerman menjawabnya dengan piano persegi. Sampai 1860 piano persegi ini mendominasi penggunaan piano di rumah.

Rangka untuk senar piano pertama menggunakan rangka kayu dan hanya dapat menahan tegangan ringan dari senar. Akibatnya, ketika pada abad ke-19 dibangun gedung-gedung konser berukuran besar, suara piano tadi kurang memadai. Maka, mulailah dibuat piano dengan rangka besi. Sekitar tahun 1800 Joseph Smith dari Inggris membuat suatu piano dengan rangka logam seluruhnya. Piano hasil inovasinya mampu menahan tegangan senar sangat kuat, sehingga suara yang dihasilkan pun lebih keras. Sekitar 1820, banyak pembuat menggunakan potongan logam untuk bagian piano lainnya. Pada 1822, Erard bersaudara mematenkan Double Escapement Action, yang merupakan temuan tersohor dari yang pernah ada berkaitan dengan cara kerja piano.

Dalam perkembangannya, sebelum memiliki 88 tuts seperti sekarang, piano memiliki lima oktaf dan 62 tuts. Ia juga dilengkapi dengan pedal. Semula pedal itu digerakkan dengan lutut. Namun, kemudian pedal kaki yang diperkenalkan di inggris menjadi populer hingga sekarang.

Sejumlah pengembangan berlanjut pada abad ke-19 dan 20. Tegangan senar, yang semula ditetapkan 16 ton pada tahun 1862, bertambah menjadi 30 ton pada piano modern. Hasilnya adalah sebuah piano dengan kemampuan menghasilkan nada yang tidak pernah dibayangkan Frederic Chopin, Ludwig Van Beethoven, dan bahkan Franz Liszt.

Sebuah perkembangan nyata di abad ke-20 (berawal di tahun 1930-an) adalah kehadiran piano elektronik (atau piano listrik), yang didasarkan pada teknologi elektroakustik atau metode digital. Nada suaranya terdengar melalui sebuah amplifier dan loudspeaker.

Dari sisi mutu suara, piano elektronik nyaris tak ada bedanya dengan piano biasa. Perbedaan terletak pada berbagai fitur yang melengkapinya. Fitur itu tentu tidak ada sama sekali dalam piano biasa. Misalnya, bisa dihubungkan dengan perangkat midi, komputer, alat rekam, memiliki pengatur volume, tusuk kontak untuk pendengar kepala, dan sebagainya.

Jumat, 19 Agustus 2011

Musik Keyboard

Sebuah musik keyboard adalah himpunan tuas ditekan berdekatan atau tuts pada alat musik, terutama piano. Keyboard biasanya berisi tuts untuk memainkan dua belas not dari skala musik barat, dengan kombinasi yang lebih besar, kunci panjang dan lebih kecil lagi, kunci pendek yang berulang pada interval satu oktaf. Penekanan tombol (tuts) pada keyboard akan menghasilkan suara, baik oleh mekanik ketukan string atau tine (piano, piano listrik, clavichord); petikan string (harpsichord); udara yang mengalir melalui pipa (organ); dsb. Pada keyboard listrik dan elektronik, penekanan tuts akan menghubungkan rangkaian (Hammond organ, piano digital, synthesizer). Karena instrumen keyboard yang paling sering ditemui adalah piano, layout keyboard sering disebut sebagai "keyboard piano".
Dua belas not dari skala musik Barat ditata dengan not terendah di sebelah kiri, semakin ke kanan kunci (untuk tujuh "natural" not dari skala C mayor: C, D, E, F, G, A , B) semakin naik nadanya. Karena tuts-tuts ini secara tradisional tercakup dalam gading mereka sering disebut not putih atau tuts putih. Tuts untuk sisa lima not yang bukan merupakan bagian dari skala(C mayor yaitu, C ♯ / D ♭, D ♯ / E ♭, F ♯ / G ♭, G ♯ / A ♭, A ♯ / B ♭ ) diangkat dan diatur kembali. Karena tuts-tuts ini jarang dipakai, mereka sering terbuat dari kayu berwarna hitam dan disebut not hitam atau tuts hitam. Mengulangi pola pada interval satu oktaf.
Pengaturan kunci C lebih lanjut dengan intervensi, kunci lebih pendek untuk semitone antara tanggal untuk abad ke-15. Banyak instrumen keyboard berasal dari sebelum abad ke-19, seperti harpsichord dan organ pipa, memiliki keyboard dengan warna tuts terbalik (not putih terbuat dari kayu hitam dan not hitam ditutupi dengan tulang putih lembut). Beberapa instrumen listrik dan elektronik dari 1960-an dan dekade berikutnya juga telah melakukan ini, misalnya organ elektronik Vox dari tahun 1960-an, organ CEPAT Farfisa yang portabel, Hohner itu Clavinet L, satu versi Poli-800 synthesizer Korg dan harpsichord digital Roland.